Lock Down Per Daerah Dinilai Tidak Efektif, Waspadai False Positif Corona

 Lock Down Per Daerah Dinilai Tidak Efektif, Waspadai False Positif Corona

DISKUSI : Dr dr Putu Wasi Nugroho dalam kesempatan diskusi terkait pencegahan penyebaran virus Corona d Purwokerto (17/3).

PURWOKERTO-Upaya pencegahan penularan virus corona yang dilakukan tidak serempak dan hanya di daerah tertentu, dinilai tidak efektif. Lockdown yang tidak serempak akan menjadikan penularan terus berlanjut ke daerah-daerah lain.

Hal itu diungkapkan Kolonel Dr dr Putu Wasi Nugroho Sp B(onk), Mars, dalam kesempatan diskusi bersama sejumlah tokoh di Purwokerto, Selasa (17/3).

Menurutnya keputusan untuk lock down seperti Italia, Malaysia, dan negara lain memang berat, apalagi Indonesia yang memiliki jumlah penduduk besar dan dengan kawasan pulau-pulau. “Jika mau efektif, lockdown itu satu kali, tetapi waktunya 37 hari, jika hanya 14 hari itu belum cukup. Alasannya dengan 37 hari itu terkait dengan masa inkubasi virus,” terangnya.

Diskusi yang dihadiri oleh advokat, jurnalis, pengusaha, dan PHRI itu berlangsung hangat, mengingat saat ini di masyarakat khususnya warga Banyumas mulai was-was dengan penyebaran virus tersebut.

dr Putu Wasi Nugroho menyampaikan, keputusan lockdown memang ada di pemerintah pusat. “Jika tidak lockdown kemungkinan penyebaran semakin luas, tetapi jika dilakukan lockdown maka ekonomi juga lumpuh, ini yang harus dicarikan solusi bersama. tetapi Lock down adalah satu-satunya cara untuk memutus rantai penularan,” jelasnya.

Di tengah situasi seperti ini ia juga memberikan kritik dan masukan dimana, saat ini test specimen untuk deteksi virus hanya di Laboratorium Kementrian Kesehatan. Sebab sangat mungkin terjadi yang namanya false positif.

“Ada kasus pasien setelah diperiksa 4 x baru diketahui jika yang bersangkutan positif corona, itu juga tidak hanya terjadi pada deteksi corona, tetapi bisa juga terjadi pada penyakit lain,” terangnya.

Sementara itu menyikapi maraknya penggunaan masker dan hand sanitizer, dr Putu mengungkapkan, masker yang benar adalah, masker yang didesain dengan ruang di sisi samping yang bisa diisi kapas atau tisu yang berfungsi untuk disinvektan. “Jika masker biasa, itu masih sangat mungkin terkontaminasi,” jelasnya.

Selain itu ia juga berbagi pengetahuan, salah satu cara disinvektan ruangan, yakni dengan menggunakan uap cuka murni. untuk ruangan 4 x 10 meter, bisa menggunakan uap cuka dengan cara dihembuskan dengan kipas angin selama 15 menit.

Selain itu aroma tembakau murni juga bisa digunakan untuk sterilisasi ruangan. ” Yang membuat rokok berbahaya itu nikotin + campuran saus dan bahan lain, itu yang bisa menimbulkan bahaya, jika tembakau murni itu tidak masalah,” tambahnya.

Selain virus Corona, saat ini juga terdapat penyakit lain yang tidak kalah berbahaya dan mematikan, demam berdarah, TBC dan lainya, prinsipnya tetap jaga kesehatan dan pola hidup yang bersih.

Sementara itu Edy Wahono salah satu pengunjung yang juga Ketua Masyarakat Peduli sungai Serayu mengungkapkan, terkait dengan False positif bahkan pihaknya mengalami hal tersebut, tetapi bukan pada virus corona malainkan leukimia. “Kami sendiri berasal dari keluarga medis, setelah 15 kali cek salah satu anggota keluarga kami baru diketahui terkena Leukimia,” terangnya.

Artinya jika wabah corona sampai menyebar di Indonesia, bukan tidak mungkin chaos bisa terjadi, mengingat terbatasnya alat, rumah sakit, maupun tim medis. “Ini harus menjadi perhatian kita bersama agar kita juga ikut waspada dan menjaga diri,” ungkapnya.

Sementara itu Ketua Perhimpunan Hotel dan Restaurant ( PHRI ) Banyumas, Haris Subiyakto mengungkapkan, banyak pihak yang mengalami kerugian akibat wabah ini, PHRI mengalami kerugian yang signifikan. Hunian hotel sudah turun 40 persen. Adapun jumlah hotel dan restoran di Banyumas sebanyak 700 unit, dengan tingkatan yang berbeda. “Sejumlah anggota kami sudah mengalami pembatalan order, ada salh satu hotel yang kerugiannya sampai Rp 700 juta,” terangnya.

Bahkan sejumlah hotel saat ini sudah merumahkan karyawanya, sebab pengusaha tidak mungkin bertahan jika tidak ada pemasukan. Kemarin pihaknya bersama anggota juga mengadu ke DPRD Banyumas, intinya PHRI meminta agar pajak daerah untuk hotel dan restoran bisa ditangguhkan.

Sementara itu data up date orang dalam pengawasan ( ODP) di Banyumas per 17/3 kemarin, jumlahnya mencapai 383 orang, dengan suspect 2 orang.

Adapun ODP dirujuk ke RS 5 orang, dan Pasien Dalam Pengawasan ( PDP) 4 orang. Namun hingga tgl 17 Maret kemarin, konfirmasi positif di Banyumas masih 0 atau tidak ada. (saw)

Beri komentar :
Share ya :

Anas Masruri

Redaktur Banyumas Ekspres