Mengunjungi Produksi Dodol Tape Sirsak Bu Nur, Salah Satu Brand Produk UMKM Banyumas

 Mengunjungi Produksi Dodol Tape Sirsak Bu Nur, Salah Satu Brand Produk UMKM Banyumas

Pekerja membungkus dodol tape sirsak

Mengunjungi rumah Nur Inganah pusat produksi dodol tape singkong dan tape sirsak super, di Desa Lesmana RT 01/RW 04 Kecamatan Ajibarang. Pemandangan asri hamparan sawah dan gunung Slamet di sisi utara, serta udara sejuk menjadi suguhan alam yang menentramkan.

Lokasi rumah Bu Nur tidak jauh dari jalan utama Purwokerto – Ajibarang. Dua ratus meter barat SPBU Lesmana masuk sekitar 300 meter ke utara, sesampainya di SDN 3 Lesmana tinggal belok kiri ke arah barat kurang lebih 1 KM.

Setelah melewati hamparan sawah, di ujung desa terdapat masjid Al Hidayah. Rumah Bu Nur tepat di sisi kiri masjid. Seorang lelaki paruh baya terlihat sedang mengaduk adonan jenang atau dodol di atas tungku dengan wajan sedang kapasitass 3 Kg. Sementara di ruang tengah terlihat perempuan tengah membungkus dodol yang sudah matang.

Bu Nur Inganah merupakan putri dari KH Mukhlis dan Ibu Khasanah. Produk dodol atau jenang tersebut awalnya merupakan warisan dari orang tua yang memang sudah diproduksi sejak tahun 1935.

” Dulu ibu saya selalu membuat dodol tape, makanan ini dipilih karena bisa tahan lama, apalagi bapak dulu tokoh masyarakat ( Ketua Jawatan Agama Kabupaten Banyumas dan Pendiri IAIN Walisongo- red) yang selalu mendapat kunjungan tamu, sehingga dodol tape singkong menjadi suguhan selalu tersaji,” terangnya.

Dulu produk tersebut memang hanya untuk sajian untuk para tamu, baik pada saat acara ataupun hari lebaran,tetapi kini dodol tersebut diproduksi setiap hari.

Apalagi lokasi di desa, waktu itu masih sulit transportasi untuk membeli cemilan. Sehingga ibunya selalu menyediakan dodol atau singkong. Tak hanya itu orang tuanya juga mengajak tetangga untuk ikut memproduksi dan memberikan resep.

” Awalnya saya tidak tertarik untuk memproduksi, karena prosesnya lama dan tidak mudah. Namun setelah saya menikah, baru mulai memproduksi dodol tape. Semula hanya tape singkong, kemudian saya menambah varian dengan sirsak,” jelasnya.

Sepeninggal ibunya, produksi dodol tersebut diteruskan oleh karyawan yang juga berasal dari tetangga. Produk tersebut lalu di jual di toko miliknya di pasar Ajibarang. ” Tahun 1982 dulu kita punya toko di pasar Ajibarang. Kemudian tahun 1990 saya mulai produksi sendiri dengan varian sirsak, alhamdulilah sejak awal produksi sampai hari ini belum pernah berhenti, selalu ada pesanan” terangnya.

Awal ia ikut memproduksi memang untuk menambah penghasilan keluarga, sekaligus ikut membantu suami menambah biaya pendidikan anak. dari yang semula produksi hanya 3 Kg ia mulai memproduksi dengan kapasitas 30 Kg dengan wajan besar.

Diproduksi Sejak Tahun 1935

Jenang tersebut ia jual keliling di pasar-pasar mulai dari Ajibarang, Purwokerto, Banjarnegara hingga Wonosobo. ” Dulu anak saya mondok di Kalibeber Wonosobo, sembari nengok anak, saya juga jualan ke pasar, Alhamdulilah pesanan selalu banyak, karena memang produk tersebut masih langka,” tambahnya.

Untuk membuat dodol tape singkong, proses memasak dilakukan dua kali dengan durasi waktu 3 jam. Setelah adonan tape singkong dicampur gula pasir, lalu dimasak setengah matang, ketika setengah matang adonan diangkat ditunggu hingga kalis, setelah itu adonan kembali dimasak dan terus di aduk sampai benar-benar matang. Setelah matang adonan di tuang ke dalam loyang dan dijemursampai kering. Setelah kering baru kemdian di potong menjadi ukuran kecil dan dikemas.

” Kalu untuk dodol sirsak, proses lebih mudah, karena hanya satu kali masak, tetapi pada saat masak harus selalu diaduk, jika sampai gosong maka menjadi keras dan tidak bisa dimakan sama sekali. Ini yang membedakan dengan wajik ketan. Kalau wajik ketan misal ada yag gosong sedikit, poses masih bisa dilanjutkan dan masih bisa dimakan,” terangnya.

Saat ini proses membuat adonan memang sudah ada mesin khusus, namun menurutnya adonan yang dibuat dengan mesin hasilnya terlalu lembut sehingga serat sirsak dan tekstur sirsak tidak terlihat.

Dari rasa, dodol tape original atau dodol singkong ini memiliki rasa dominan manis dengan sedikit asam khas tape dengan aroma wangi. Rasanya yang nagih membuat camilan ini tidak bosan untuk selalu dimakan.

Saat ini ia Bu Nur Inganah memiliki 7 orang karyawan, dengan produksi rata-rata 2 hingga 3 kali masak. Satu kali masak kapasitas 30 Kg. Untuk produksi 60 Kg dikemas menjadi 120 bungkus dengan ukuran per bungkus 500 gram. Setiap bungkus dijual di toko oleh oleh dengan harga Rp 35.000 per bungkus.

Sejumlah toko oleh-oleh di Purwokerto, Supermarket dan Hotel saat ini juga sudah menyediakan produk Dodol tape Sirsak. Sedangkan permintaan paling banyak yakni Toko Oleh-Oleh bandeng Juana Erlina di Pandanaran Semarang. Setiap Bulannya ia mengirim 400 bungkus atau sekitar 2 kwintal dodol.

Bu Nur sendiri termasuk produsen yang aktif mengikuti berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh Dinakerkop UKM Banyumas dan Dinperindag Banyumas. Menurutnya ia banyak belajar baik tentang peningkatan kualitas produk, segmen pasar, maupun branding. Saat ini produknya juga sudah mendapat label Halal dan PIRT.

Kini produknya bahkan menjadi brand salah satu oleh-oleh khas Banyumas, ia mengaku sangat bersyukur, produk dodol tersebut memberi berkah dan manfaat bagi banyak orang. I amengaku dalam berjualan tidak mengambil untuk banyak, sebab denganseperti itu terbuka peluang reseller sehingga orang lain yang berjualan bisa ikut menikmati hasilnya. (sakur)

Beri komentar :
Share ya :

Eko Utomo

Redaktur Banyumas Ekspres

Artikel terkait :