Cilacap Dikepung Banjir dan Tanah Longsor

 Cilacap Dikepung Banjir dan Tanah Longsor

MELINTAS BANJIR : Pengendara melintas banjir di jalan utama Sidareja, Selasa (17/11) (Foto: Taslim Indra)

CILACAP – Sejumlah wilayah kecamatan di Kabupaten Cilacap dikepung bencana banjir dan tanah longsor serta angin kencang akibat cuaca ekstrem yang terjadi sejak dua hari terkahir. Sedikitnya Sembilan kecamatan di wilayah Cilacap Barat dan Timur dilaporkan terdampak bencana alam tersebut.

Delapan wilayah Kecamatan yang terdampak banjir dan tanah longsor meliputi Kecamatan Sidareja, Kedungreja, Cipari, Gandrungmangu, Bantarsari, Cimanggu, Karangpucung, Wanareja dan Kroya.

Camat Sidareja Budi Narimo melaporkan, sebanyak lima desa di wilayahnya terdampak genangan banjir akibat hujan deras yang mengguyur sejak Senin (16/11) sore hingga Selasa (17/11) pagi. Lima desa itu yakni Desa Gunungreja, Sidareja, Sidamulya, Sudagaran, dan Tegalsari dengan ketinggian setengah hingga satu meter akibat meluapnya sejumlah aliran anak sungai dan Sungai Cimeneng.

“Tempat pengungsian yang disiapkan terdiri dari Balai Penyuluh KB, Koramil Sidareja, Kantor Desa Sidareja dan Kantor BUMDes,” katanya, Selasa (17/11).

Kepala Unit Pelaksana Teknis (UPT) BPBD Sidareja Agus Sudaryanto mengatakan sedikitnya ada 8 kejadian bencana alam yang terjadi di Distrik Sidareja selain banjir genangan di Kecamatan Sidareja, Cipari, Kedungreja, Gandrungmangu dan Bantarsari.

Camat Bantarsari, Hari Winarno melaporkan, bencana banjir yang terjadi di wilayah Kecamatan Bantarsari merupakan luapan dari sungai Cimeneng akibat tanggul yang jebol di beberapa titik yang tidak mampu menahan derasnya air. Luapan sungai menggenangi enam desa. Terdiri dari Desa Kedungwadas, Cikedondong, Bulaksari, Kamulyan, Bantarsari dan Rawajaya.

“Di Desa Cikendondong ada delapan ekor kambing milik warga mati. Di Desa Kamulyan, ada dua Dusun yang terdampak banjir yang dihuni 750 KK dan yang mengungsi di posko sebanyak 100 KK,” kata Hari.

Pihaknya terus melakukan pendataan untuk menghitung kerugian akibat banjir sambil menyiapkan dapur umum.

Di wilayah Cipari, kejadian bencana alam berupa banjir bandang yang melanda Desa Pegadingan. Sedangkan di Kecamatan Kedungreja terjadi genangan air di Desa Bumireja akibat tanggul sungai Cibeureum jebol.

Kecamatan Wanareja banjir terjadi di Dusun Gayamsari, Dusun Mulyasari dan Dusun Purwayasa Desa Purwasari. Hujan deras mengakibatkan tanggul kanan sungai Cibeureum sepanjang 12 meter jebol dan limpas ke area sawah sekitar 200 hektare.

Banjir juga mengakibatkan puluhan rumah dan sejumlah fasilitas umum seperti sekolah, tempat ibadah, pasar desa dan jalan desa dan jalan kabupaten tergenang. Akibatnya jalur transportasi ikut terganggu.

Kepala Desa Purwasari Ahmad Yunal Amami mengatakan banjir terjadi sekitar pukul 03.00 wib Tanggul sungai Cibeurem jebol limpas ke area sawah dan pemukiman.

“Perangkat desa dan relawan melakukan evakuasi terhadap keluarga yang rumahnya terendam banjir dan menyelamatkan barang-barang rumah agar tidak terendam banjir dan melaporkan ke Forkompimca dan BPBD,” kata dia

Menurut Kepala BPBD Wilayah Majenang Edi Sapto Priyono melalui Staf Pelaksana Harian Muhadi ada 4 RT yang terendam banjir di Dusun Gayamsari Genangan air sedalam 20-60 senti meter. Ada 52 rumah yang tergenang banjir dengan 107 keluargayang terdampak. Di Dusun Mulyasari ada 6 RT yang terendam banjir dengan ketinggian hingga 1 meter. Total ada 196 rumah dengan jumlah warga terdampak sebanyak 249keluarga. Sedangkan di Dusun Purwayasa ada 3 RT yang tergenang banjir.

Banjir juga terjadi di Dusun Rangkasan Dusun Cikaronjo dan Dusun Sidadadi Desa Tarisi dengan ketinggian air 10 sampai 50 sentimeter. Banjir ini merendam ratusan rumah serta merusak puluhan kolam ikan.

Dampak Cuaca Ekstrem

Sementara bencana banjir di wilayah Kroya yang sempat reda, kini kembali datang. Bahkan kali ini lebih besar dari sebelumnya.

Camat Kroya Luhur Budi Muchsin mengatakan, banjir kali ini lebih besar dibanding akhir Oktober lalu, sehingga genangan banjir lebih tinggi, warga yang terdampak dan mengungsi lebih banyak. Banjir menggenangi enam desa yakni Desa Mujur, Mujur Lor, Kedawung, Gentasari, Buntu dan Sikampuh. “Upaya yang dilakukan mengevakuasi warga terdampak banjir dan mendirikan posko dan dapur umum,” katanya.

Sedangkan kejadian bencana tanah longsor terjadi di Desa Karanganyar Kecamatan Gandrungmangu, Desa Panimbang Kecamatan Cimanggu dan Desa Gungtelu Kecamatan Karangpucung. Rumah tertimpa pohon tumbang di Desa Kutasari Kecamatan Cipari dan Desa Karanggedang Kecamatan Sidareja.

Kepala Pelaksana Harian Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap, Tri Komara Sidy Wijayanto mengatakan, pihaknya masih melakukan inventarisir bencana alam yang terjadi di wilayah Kabupaten Cilacap mengingat luasnya wilayah. Selain itu akses terhambat banjir dan dibayangi hujan.

Sementara itu Prakirawan Cuaca Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung, Cilacap, Teguh Wardoyo mengatakan, berdasarkan hasil pantauan curah hujan di pos pengamatan curah hujan BMKG, beberapa lokasi di wilayah Kabupaten Cilacap dan banyumas pada tanggal 17 November 2020,telah terjadi hujan sangat lebat kadang disertai petir antara malam hingga pagi hari.

“Yang berdampak terhadap kejadian banjir di beberapa wilayah di Kabupaten Cilacap dan Banyumas,” kata Teguh.

Teguh menyebutkan, curah hujan di Wilayah Kabupaten Cilacap antara lain: Kedungreja 149 mm, Cipari 167 mm, Sidareja 108 mm, Nusawungu 103 mm, Adipala 121 mm, Binangun 84 mm, Jeruk Legi 83 mm dan Maos 75 mm. Konsentrasi curah hujan sangat lebat berada di wilayah Cilacap bagian Tengah dan Timur.

“Curah hujan di Wilayah Kabupaten Banyumas antara lain: Gumelar 273 mm, Sudagaran 116 mm, Sumpiuh 165 mm dan Kemranjen 107 mm. Konsentrasi curah hujan sangat lebat berada di wilayah Banyumas bagian Tengah dan Selatan,” paparnya.

Dikatakan, pemicu curah hujan tinggi karena masih ada fenomena global La Nina moderat, suhu muka laut wilayah Indonesia yang masih hangat dan sebagian wilayah Cilacap sedang memasuki puncak musim penghujan. Sedangkan kondisi atmosfer berdasarkan pantauan citra satelit hari ini ( 17/11) terdapat Badai Tropis “Alicia” di Samudra Hindia Barat Australia yang bergerak menjauhi wilayah Indonesia.

“Peningkatan curah hujan masih perlu diwaspadai mengingat puncak musim hujan diprakirakan akan berlangsung antara bulan Desember hingga Januari 2021 di beberapa wilayah di Cilacap dan Banyumas,” pungkasnya. (gin/lim)

SAMB: Dampak Cuaca Ekstrem

Beri komentar :
Share ya :

Eko Utomo

Redaktur Banyumas Ekspres

Artikel terkait :