Kisah Dibalik Monumen Gilingan Tahu Di Desa Nusadadi Kecamatan Sidareja

 Kisah Dibalik Monumen Gilingan Tahu Di Desa Nusadadi Kecamatan Sidareja

FOTO: Monumen Gilingan Tahu Di Desa Nusadadi

SIDAREJA – Batu besar dengan diameter 50 cm terlihat di depan rumah Agus Abdulah S Th I di Dusun Nusadadi Desa Tinggarjaya Kecamatan Sidareja. Jika dilihat, batu bundar tersebut memiliki gerigi dibagian bawah yang saling bertumpu dan lubang yang berfungsi untuk menyalurkan air dan penggilingan.

Jika melihat bentuknya, batu tersebut memang berfungsi untuk penggilingan kedelai yang akan di olah menjadi makanan tahu. Agus Abdulah sendiri merupakan Putra dari H Abdul Mukti yang juga Cucu dari Mbah Jazuli.

Batu tersebut kini sengaja di taruh didepan rumahnya dan sekaligus dibuat sebagai monumen penggilingan tahu. ” Kami ini mengenang perjuangan pendahulu, sekaligus memberitahukan kepada generasi saat ini, sebelum ditemukan mesin, proses produksi penggilingan tahu dilakukan secara manual atau tenaga manusia,” ungkapnya.

Awal produksi tahu tersebut dilakukan oleh Mbah Jazuli alias Kamad yang waktu itu merupakan Veteran Tentara Peta.

Untuk menambah penghasilan keluarga sekaligus menghidupi keluarga, maka Mbah Jazuli memutuskan untuk memproduksi tahu. Pada zaman tersebut tahu masih sangat jarang, bahkan belum ada produsen dalam jumlah banyak.

Proses pembuatan tahu tersebut, kedelai yang sudah direndam semalam, lalu sedikit demi sedikit dimasukkan ke dalam lubang batu, seiring memasukkan kedelai, air juga dialirkan.

Perlahan batu tersebut di dorong memutar searah jarum jam. Kemudian kedelai tersebut akan tergerus dan menjadi adonan. Dibagian bawah terdapat ember yang berfungsi untuk menampung luapan adonan kedelai.

Butuh waktu satu jam lebih untuk membuat adonan kedelai yang siap masak. Bukan proses yang mudah, sebab proses pembuatan tahu masih panjang.

Setelah digiling, selanjutnya adonan di rebus hingga matang di tunggu berukuran besar. Tungku tersebut dinamakan apolo karena bentuknya yang cekung ke dalam dan memiliki cerobong asap.

Setelah matang, adonan tersebut lalu disaring dengan kain putih tipis, untuk memisahkan sari kedelai dan ampasnya.

Sari Kedelai yang sudah berhasil dipisah lalu diaduk dan diisi dengan ragi atau aseman, yang berfungsi untuk menggumpalkan sari kedelai. Setelah menggumpal, kedelai tersebut lalu di cetak untuk kemudian dipotong sesuai ukuran besar dan kecil.

Sekelumit gambaran diatas adalah proses yang harus dilakukan oleh produsen tahu, selain itu masih ada proses merebus danmenggoreng supaya tahu bisa awet.

Pernah Jadi Sentra Produsen Tahu di Kecamatan Sidareja

Pada Zamannya tahu Mbah Jazuli sangat terkenal. Bahkan saat itu kerap dijadikan oleh-oleh ke luar kota termasuk ke Sumatra.

Tahu tersebut memang awet dan bisa bertahan 4 hari lebih karena direbus hingga dua kali dan masih direndam dengan air panas semalam suntuk.

Proses memasak yang dilakukan berulang-ulang menjadikan tahu tersebut padat, kenyal dan bisa tahan lama. Lama kelamaan produsen tahu tersebut tidak hanya dilakukan oleh jazuli namun juga oleh para tetangga dan sanak saudara. pada tahun 1980 an hingga tahun 1990 an, Desa Nusadadi bisa disebut sentra produsen tahu.

Terdapat lebih dari 10 perajin tahu yang aktif memproduksi, namun saat ini jumlahnya sangat sedikit. Saat ini produksi tahu tersebut sudah dipegang generasi ketiga atau cucu dan menantu yang meneruskan usaha tersebut.

Produksi tahu Mbah Jazuli dilanjutkan oleh ketiga anaknya yakni Faozan, Siti Zaenatun dan Siroh. Produksi tahu oleh Faozan sendiri kini sudh dipegang oleh anaknya yakni Masruri. Begitu pula dengan produsen tahu oleh Siti Zaenatun bersama H Abdul Mukti, kini sudah dipegang oleh menantunya.

Tahu sebagai produksi UMKM telah mebuktikan bahwa produk tersebut mampu menghidupi keluarga dan juga menyerap banyak tenaga kerja. namun meskipun saat ini produksi tahu sudah menggunakan gilingan mesin namun hasilnya tidak seperti ditahun 80 an hinga tahun 90an.

Dimana harga komoditi Kedelai dan Minyak Goreng masih sangat murah, sehingga meskipun saat itu dijual Rp 10 per biji, hasilnya tetap menguntungkan.

 

Menurut Agus Abdulah, monumen tersebut tidak hanya untuk mengenang perjuangan, tetap sekaligus membangkitkan semangat untuk terus tumbuh dan berproduksi.

Dari itu ia berharap pemerintah daerah melalui Dinas Koperasi dan UMKM bisa memberikan dukungan terhadap produsen lokal yang sudah diwariskan turun temurun tersebut.

“Bila perlu pemerintah membuat festival tahu, ini dilakukan untuk membranding produk UMKM di wilayah Cilacap Barat, ini hanya salah satu faktor untuk mengangkat ekonomi rakyat. Tindak lanjutnya nanti bisa diarahkan untuk membuat berbagai fariasi produksi tahu.

Variasi tersebut misalnya, tahu bakso, kembang tahu untuk sup, tahu krispi, susu kedelai, tahu bulat, dan berbagai makanan olahan berbasis tahu, seperti tahu gejrot, karedok, ketoprak, tahu isi dan masih banyak lagi,” terangnya.

Nyatanya makanan tersebut sudah menjadi makanan sehari-hari ditengah masyarakat, sehingga sudah selayaknya pemerintah turut memperhatikan dan ikut mendorong industri rakyat tersebut. (Sakur Abdul Wahid)

Beri komentar :
Share ya :

Banyumas Ekspres

Selalu Ada yang Baru Setiap Hari

Artikel terkait :