Miris, Ada Pecandu Campur Obat Golongan III dengan Krim Anti Nyamuk

 Miris, Ada Pecandu Campur Obat Golongan III dengan Krim Anti Nyamuk

Kepala BNNK Cilacap AKBP Triatmo Hamardiyono saat memberi penjelasan capaian selama 2019. (Wagino)

CILACAP – Pelaksanaan program pencegahan dan pemberantasan penyalahgunaan dan peredaran gelap narkotika (P4GN) Badan Narkotika Nasional (BNN) Kabupaten Cilacap selama 2019 diklaim berhasil. Indikatornya, berhasil mengungkap jaringan narkoba, rehabilitasi pecandu narkoba hingga diseminasi informasi.

Kepala BNN Kabupaten Cilacap, AKBP Triatmo Hamardiyono mengungkapkan, dalam upaya pencegahan dan pemberdayaan masyarakat (P2) target terpenuhi.

“Sebagai contoh, kegiatan diseminasi informasi dari target tujuh persen dari jumlah penduduk Kabupaten Cilacap berhasil menyasar 184.643 orang atau sebesar 10.26 persen. Artinya melebihi target,” kata Kepala BNN Kabupaten Cilacap dalam rilisnya, Senin (30/12).

Dalam upaya pemberantasan, Triatmo mengungkapkan, tahun 2019 BNNK Cilacap berhasil mengamankan seorang pengedar narkoba jaringan Jakarta dengan barang bukti berupa 1.90 gram shabu. Kasusnya sudah diputus di Pengadilan Negeri Cilacap dengan hukuman enam tahun tiga bulan penjara dengan subsidair Rp 250.000.000.

“Selain itu, bersama BNNP Jateng dan BNN Pusat juga mengungkap 1,65 juta butir PCC yang pabriknya di Tasikmalaya dan gudangnya di Kroya. Enam orang tersangka warga Kroya telah ditangkap dan penyelidikannya dilaksanakan BNN Pusat. Termasuk mengeluarkan DPO terhadap beberapa warga Cilacap yang terlibat jaringan narkotika Tangerang dan Palembang,” ungkapnya.

Obat Golongan III Campur Krim Anti Nyamuk

Dia menyebutkan, selama 2019 BNNK Cilacap juga telah merabilitasi sebanyak 34 pecandu narkoba. Mereka masing-masing direhabilitasi di Lembaga Rehabilitasi Komponen Masyarakat (LRKM) Tambihul Ghofilin sebanyak lima orang dan 13 lainnya di Klinik Karline Sidareja.

“Sedangkan di Klinik Sehati milik BNNK sebanyak 16 orang,” bebernya.

Dikatakan, mereka yang menjalani rehabilitasi bukan pecandu yang mengkonsumsi narkoba jenis sabu-sabu, ataupun ganja. Melainkan obat-obatan seperti dextro, tramadol, alprazplam, marlopam, dan jenis lainnya yang merupakan obat-obatan golongan III karena mudah didapat di warung-warung.

“Bahkan, obat-obatan yang dikonsumsi ini diracik bersama dengan bahan lainnya, seperti krim anti nyamuk,” papar Triatmo.

Triatmo menyatakan, para pecandu direhabilitasi gratis, sampai pulih, agar tidak ketergantungan terhadap obat-obatan tersebut lagi. Mereka datang tidak hanya secara sukarela, tetapi ada yang datang setelah diberikan sosialisasi oleh BNNK Cilacap.

“Setelah pulih, mereka juga akan diikutkan pada program pasca rehabilitasi. Sebagai pemantauan terhadap mereka, sekaligus dengan diberikan pelatihan, agar bisa berkegiatan aktif di lingkungan,” tandasnya.

Ditambahkan, upaya lainnya yakni kerjasama dengan berbagai instansi dalam pelaksanaan program pengembangan wawasan anti narkoba, program BNNK Goes to School. Kemudian bekerjasama dengan Polres Cilacap serta Kesbangpol pada pembentukan Program Desa Bersih dari narkoba atau Desa Bersinar.

Dalam kesempatan yang sama, Kasi Rehabilitasi BNNK Cilacap, dr Septi Pramudowardani mengungkapkan, pasien di Klinik Sehati yang direhabilitasi berusia antara 12 sampai 43 tahun. Tujuh diantaranya masih pelajar.

Menurutnya, berbagai faktor menjadi penyebab para pemakai ini menggunakan obat-obatan, diantaranya masalah keluarga, pengaruh lingkungan, tingkat kerohaniannya. “Mereka kita rehab sesuai dengan faktor-faktor itu,” ujarnya. (gin)

 

Beri komentar :
Share ya :

Eko Utomo

Redaktur Banyumas Ekspres

Artikel terkait :