Permintaan Susu Kambing Melonjak Saat Pandemi


Digunakan untuk Terapi Kesehatan dan Tingkatkan Imun

CILACAP- Kesadaran masyarakat untuk menjaga kesehatan dan imun semakin meningkat saat pandemi. Salah satunya dengan mengkonsumsi susu kambing. Masih minimnya produsen susu kambing menjadikan susu kambing selalu jadi rebutan.

Saat Banyumas Ekspres mengunjungi peternakan kambing perah Origin Dairy Farm, di Desa Sumingkir Kecamatan Jeruklegi Kabupaten Cilacap, Saiful (39) pengelola terlihat sibuk memerah satu persatu kambing di kandangnya. Dengan sabar kambing kambing tersebut diambil dari kandang, lalu ditempatkan di kotak khusus agar proses pemerahan susu berjalan lancar.

Butuh waktu sekitar 10-15 menit untuk memerah kambing tersebut. Dikandang itu, terdapat ratusan ekor kambing indukan yang siap perah. Bahkan dalam satu hari bisa dihasilkan hingga 25 liter susu kambing.

Satu ekor kambing biasanya menghasilkan satu hingga satu setengah liter setiap kali perah. Susu tersebut selain dijual dalam bentuk susu murni, juga dijual dalam berbagai produk turunan lain.

Nizar Baasir selaku pemilik Origin Dairy Farm mengungkapkan, ia sudah mengelola ternak kambing perah selama 15 tahun. Jenis kambing yang di budidaya yaitu Sanen, Alpine, dan anglo Nubian.

“Dulu yang paling terkenal adalah kambing Etawa, sebenarnya di Indonesia jenisnya yaitu PE atau peranakan etawa. yang asli ada di India,” terangnya.

Produktivitas kambing bisa menghasilkan susu yaitu setelah usia satu setengah tahun. usia produktif itu bisa menghasilkan susu hingga usia enam tahun.

“Produktivitas kambing perah di usia 1,5 tahun sampai 6 tahun masa produktif. Pasca enam tahun kurang optimal.
Hasil susu harian rata-rata 1,5 liter per ekor. Sedangkan harga susu per liter mulai Rp 20 ribu -Rp 40 ribu tergantung kualitas,” terang Nizar.

Ditanya prospek pasar seperti apa, menurutnya masih sangat bagus. Kesadaran masyarakat minum susu juga semakin baik.
“Susu kambing punya khasiat lebih, untuk terapi kesehatan. Bulan Juli lalu ketika puncak Covid, permintaan susu kambing meningkat tajam. Dari testimoni warga, imunitas meningkat dan cepat sembuh. Bahkan susu masih dikandang sudah pada antri,” terangnya.

Susu kambing juga bagus untuk terapi kesehatan dan penyembuhan paru paru, konsumsi rutin lebih bagus, apalagi yang menderita penyakit kronis.

Susu kambing yang dihasilkan, dia olah menjadi beberapa produk turunan seperti, susu pasturisasi, yogurt, kefir, es krim, keju, dan susu bubuk.

Karena produsen susu kambing di Karesidenan Banyumas sangat terbatas, maka hasil produk olahan tersebut juga selalu habis terjual.

Siap Berbagi Ilmu

Sebagai rasa cinta terhadap dunia peternakan, Nizar juga sangat terbuka dan bersedia untuk berbagi ilmu, khususnya bagi para pemula yang ingin membudidaya ternak kambing perah.

Menurutnya, syarat yang utama yaitu harus benar benar mencintai peternakan. Jangan sampai hanya menggunakan pendekatan kalkulasi. Jika hanya menggunakan pendekatan kalkulator selamam ini sudah banyak yang berhenti dan gagal.

Idelanya bagi peternak pemula, butuh 20 ekor indukan betina, dengan modal kisaran Rp 200 juta. Belum termasuk persiapan enam bulan kedepan, selama kambing belum produktif.

“Kami sangat terbuka, jika ada ingin belajar, kami juga memberikan pendampingan kepada mitra, bahkan anakan dari ternak kami juga sudah tersebar ke berbagai daerah hingg Bali Sumatra dan daerah lain,” terangnya.

Idealnya jika memulai ternak kambing perah, skala minimal ekonomis dan bisa mempekerjakan orang, minimal 20 induk betina, lebih banyak juga lebih baik. Jika kurang dari itu skala ekonomi tidak ketemu.

Selain menghasilkan susu, juga ada anakan. Kambing bisa menghasilkan susu, setelah bunting dan melahirkan, baru keluar susu. Budidaya kambing perah termasuk paling komplek. Ada aktivitas breeding dan fatening atau pembesaran, dan Milking. Selain itu anakan juga bisa dibesarkan lagi dan bisa dijual sebagai keuntungan peternakan.

Saran bagi pemula, yang pertama adalah rasa cinta. Peternakan beda dengan pabrik, sebab tidak ada libur, satu tahun 365 hari on terus, harus tetap dirawat, dan dikasih makan setiap hari. Jadi tidak kenal libur,

Kambing perah juga seperti itu, baik Idul Fitri atau hari besar lainnya tetap harus diperah. Jika berhenti malah bisa sakit. Seperti radang susu atau mastitis.

Peternakan tersebut juga menerapkan konsep terpadu, selain budidaya dan pengolahan produk turunan, limbah atau kotoran juga diolah menjadi pupuk organik. Pengolahan tersebut bekerjasama dengan pesantren. Hasil pupuk organik tersebut di serap oleh petani di Cilacapdan Banyumas.

” Proses fermentasi dilakukan disini, sekali bongkar bisa mencapai puluhan ton, pupuk kita jual dengan ukuran volume, satu kantor diharga Rp 25 ribuan,” terangnya.

Semenara itu untuk memenuhi pakan hijauan kambing, ia juga menanam rumput odot di lahan seluas 7000 m2, selain hijauan rumput pemenuhan pakan diberikan pula pakan dari fermentasi dan tebon jabung.

Pemberian pakan ternak, tidak boleh berubah, misal satu jenis itu sudah penuhi semua kebutuhan gizi maka jangan dirubah. Jika berubah maka akan adaptasi laigi, baik kesukaan terhadap pakan maupun produktivitasnya.

Nizar yang sudah 15 tahun mengelola peternakan kambing perah, akan terus mengembangkan peternakan tersebut. Bahkan dalam waktu dekat jumlahnya juga akan di tambah. Menurutntya, karena prospeknya masih sangat besar, maka budidaya kambing perah menjadi sangat menarik, syaratnya harus benar benar mencintai dan mau memberi perhatian penuh.

Meski penanganan dan pengelolaanya cukup komplek, namun potensi yang dihasilkan juga cukup beragam, baik susu , olahan produk susu, anakan,hingga pembesaran, termasuk hasil pupuk dari limbah. Jika dikelola secara maksimal maka ternak kambing perah pati bisa menghasilkan. (sakur)

Beri komentar :
Share Yuk !