Petani Dayeuhluhur Gelar Tradisi Ngabeungkat Dawuan

 Petani Dayeuhluhur Gelar Tradisi Ngabeungkat Dawuan

KUBUR KEPALA KAMBING: Posesi Ritual Tradisi Adat Ngabengket Dawuan di Hulu Bendungan Irigasi Area Persawahan Dusun Singaraja Desa Datar Kecamatan Dayeuhluhur, Senin (29/6)/TASLIM INDRA

DAYEUHLUHUR – Warga khususnya petani di Dusun Singaraja Desa Datar Kecamatan Dayeuhluhur menggelar tradisi Ngabeungket Dawuan sebelum mengawali masa tanam, Senin (29/6).

Dawuan adalah hulu saluran irigasi untuk mengairi area persawahan dan Ngabeungkat Dawuan artinya memperbaiki dan membersihkan saluran irigasi dan bendungan. Ini dilakukan agar air yang mengalir lancar dan membawa berkah bagi seluruh petani penggarap sawah.

Pada prosesi Ngabengket Dawuan yang dilaksanakan di bagian hulu Bendungan Persawahan Dusun Singaraja dipimpin langsung seorang juru kunci atau tokoh adat setempat, dihadiri Kepala dan perangat Desa Datar, Mantri PSDA, Kepala Dusun, Tokoh Adat dan 20 orang warga penggarap sawah.

Prosesi Ngabengket Dawuan ditandai dengan pemotongan seekor kambing berbulu hitam oleh penggarap sawah sebagian dagingnya dimasak dan dimakan bersama. Sebagian lagi yang merupakan bagian tubuh kambing seperti kepala,kulit, kaki,jeroan hingga darahnya dikubur dalam satu lobang di hulu bendungan bersama aneka ragam khas sesaji.

Kepala Desa Datar Darsah mengungkapkan, Ngabeungkat Dawuan merupakan suatu adat tradisi masyarakat sunda di Kecamatan Dayeuhluhur Kabupaten Cilacap yang dilakukan sekelompok masyarakat yang memiliki lahan pesawahan.

Jaga Infrastruktur Pengairan

Tradisi tersebut sudah berlangsung lama secara turun-temurun dilakukan sejak nenek moyang hingga sekarang dan merupakan budaya kearifan lokal yang diwarisankan para leluhur agar masyarakat selalu mengedepankan pola hidup gotong royong.

“Selain sebagai wujud kebersamaan dan kerukunan dalam kehidupan sehari hari juga turut berperan aktip didalam menjaga dan memelihara infrastruktur pengairan agar tidak mampet dan cepat rusak,” katanya.

“Sehingga dapat meningkatkan produktivitas tanaman padi dengan pasokan air yang cukup,” tambahnya

Sementara itu Tokoh Adat dan Pegiat Buday Dayeuhluhur, Ceceng Rusmana kepada Banyumas Ekspres mengatakan, Ngabeungkat Dawuan menurut sejarahnya telah berlangsung sejak era Raja Sunda Susuktunggal yang dahulu wilayah kekuasaannya sampai ke wilayah Dayaluhur (Dayeuhluhur).

Pada era tersebut masyarakat Dayaluhur diajari bersawah di pegunungan, hingga sekarang tradisi tersebut masih terjaga dan dilaksanakan di setiap bendungan-bendungan irigasi di desa-desa pegunungan terutama di wilayah Kecamatan Dayeuhluhur seperti di Desa Datar, Hanum, Bingkeng, Sumpinghayu dan Desa Kutaagung..

“Tata cara dari tradisi adat Ngabeungkat Dawuan itu sendiri adalah salah merupakan suatu budaya yang khas asli wilayah Dayeuhluhur dan kemungkinan tidak dilaksanakan di daerah yang lain,” ujar Ceceng. (lim)

Beri komentar :
Share ya :

Eko Utomo

Redaktur Banyumas Ekspres

Artikel terkait :