Seoul, Surga Belanja Para Pelancong

 Seoul, Surga Belanja Para Pelancong

Sebagaimana kota Kosmopolitan, kehidupan malam kota Seoul tak pernah mati

Denyut nadi Kota Seoul sebagai pusat kendali pemerintahan negara Korea Selatan, memang tak pernah mati. Selama 24 jam, jalanan dan pusat-pusat aktivitas publik Kota Seoul nyaris tak pernah sepi meski tak seramai saat siang hari. Sejumlah pusat keramaian, buka nonstop seperti pusat perbelanjaan dan tempat hiburan malam.  Wartawan Banyumas Ekspres, Syaifudin menuliskannya

LAYAKNYA kota metropolitan, Seoul menjadi “surga” bagi penyuka belanja maupun yang gandrung clubbing atau mengunjungi klub-klub malam yang tersebar di berbagai sudut jalan kota ini. Yang suka belanja, jangan khawatir uangnya tak terpakai, karena begitu ganyak pilihan mulai dari fashion, hiburan, pijat hingga kuliner. Seoul benar-benar menjadi “surga” belanja. Para pelancong bisa membeli aneka barang mulai dari yang branded hingga produk lokal.

Begitupun yang suka clubbing, deretan klub malam bisa dukunjungi sepanjang malam. Klub malam, memang sudah menjadi bagian denyut kehidupan di banyak kota metropolitan dunia, terutama bagi mereka yang masih berusia muda. Namun ada yang unik di salah satu sudut jalan di Distrik Gangnang yang disesaki deretan klub malam.

Sejak menjelang senja, ratusan pasang muda-mudi maupun yang datang sendiri-sendiri, sudah terlihat hilir mudik di sepanjang deretan tempat “dugem” itu. Mayoritas mereka masih berstatus pelajar atau mahasiswa.

Wisatawan Indonesia praktek membuat kimchi di Kimchi School

Yang Ganteng Gratis

Para pengelola tempat hiburan malam itu, ternyata punya strategi pemasaran khusus yang tergolong unik. Khusus pria yang memiliki wajah ganteng, tak perlu repot-repot merogoh kocek untuk menghabiskan malam di klub malam. “Yang wajahnya ganteng boleh masuk tanpa harus membayar, gratis, ”kata James.

Lulusan salah satu perguruan tinggi di Kota Seoul yang pernah mengenyam pendidikan Bahasa Indonesia selama lima bulan di Universitas Indonesia (UI) ini, mengaku punya “pengalaman buruk” saat mencoba berkunjung ke salah satu klub malam yang menjadi ajang kencan muda-mudi.

Baca Juga: Korea Selatan Negeri Drama Dengan Sejuta Pesona

“Ternyata saya harus bayar, berarti saya tidak ganteng,” seloroh pria 30-an tahun yang doyan mengoleksi berbagai jenis kosmetik dan melakukan perawatan wajah ini sambil tertawa tekekeh.

Pria berkaca mata ini tak menceritakan secara detail mengapa ada aturan tak tertulis semacam itu.
Konon, strategi unik itu tak lepas dari tidak imbangnya jumlah penduduk pria dan wanita di negara Korea Selatan. Di negara ini, jumlah pria lebih banyak dari wanita, perbandingannya bisa mencapai 1:3. Dengan strategi semacam itu, para pengelola klub malam berharap bisa menangguk pundit-pundi won dengan banyaknya wanita-wanita muda yang tertarik mengujungi klub malam lantaran banyaknya pria ganteng di sana.

Kebanyakan Ingin Hidup di Seoul

Di tengah pertumbuhan perekonomian yang begitu cepat setelah lepas dari predikat negara miskin, Korea Selatan memang masih dililit berbagai persoalan kependudukan. Dari total penduduk Korea Selatan yang mencapai 50 juta orang, 10 juta di antaranya bermukim di Kota Seoul.

Itu sebabnya, saat melintas di berbagai distrik di pinggiran Korea Selatan, suasananya terlihat lengang dan sangat jarang dijumpai aktivitas penduduk. Sementara di Seoul, aktivitas terasa hingaa 24 jam. “Semua orang Korea inginnya hidup di Kota Seoul karena akes dan fasiltasnya begitu mudah,”kata James.

Kemajuan negara Korea Selatan yang cukup pesat dari sisi perekonomian dan infrastruktur, ternyata juga tak diikuti serapan tenaga kerja yang signifikan. Bahkan mencari kerja bagi penduduk lokal menjadi momok yang begitu menakutkan.

“Kalau tidak punya koneksi dan kemampuan bahasa lain di luar Bahasa Korea, sangat susah mencari pekerjaan,”kata James yang mengaku menjadi salah satu warga asli Seoul yang merasakan sulitnya mencari kerja usai lulus dari bangku kuliah.

Dampak dari sulitnya mencari kerja, antara lain terlihat di sektor perekonomian yang dikelola warga Korea Selatan seperti bisnis kuliner. “Di rumah makan yang pengunjungnya begitu banyak, Anda lihat pelayannya hanya sedikit. Bahkan sebagian besar tenaga pelayan adalah pemilik restoran itu sendiri,” jelas James.

Standar upah minimum yang cukup tinggi, menjadi salah satu alasan. Sebab pemerintah Korea Selatan mematok standar upah minimum pekerja hampir mencapai 2 juta won per bulan, atau jika dirupiahkan bisa mencapai Rp 24 juta. Namun lepas dari persoalan itu, Korea Selatan menjadi salah satu kota yang sangat pesat perkembangan infrastukturnya. Berbagai kendala yang menghambat persoalan pembangunan infrastruktur, berhasil dilewati. (bersambung)

Kesibukan di industri kimchi yang merupakan salah satu makanan khas Korea Selatan
Beri komentar :
Share ya :

Banyumas Ekspres

Selalu Ada yang Baru Setiap Hari