Blended Learning di Masa Pandemi

 Blended Learning di Masa Pandemi

ILUSTRASI : Blended Learning di Masa Pandemi

Coronavirus Disease 2019 atau COVID-19 telah menginfeksi jutaan orang di lebih dari 200 negara di dunia dan menyebabkan kematian. World Health Organization (WHO) telah menetapkan COVID-19 sebagai pandemi global. Pandemi COVID-19 memengaruhi hampir semua aspek kehidupan, tak terkecuali pendidikan. Pada kondisi pandemi seperti ini, peran dan posisi aspek pendidikan menjadi sangat krusial.

Untuk memutus mata rantai penyebaran COVID-19 dimana guru dan siswa berperan sebagai bagian mata rantai penyebaran maka hampir semua negara meniadakan kegiatan belajar di sekolah.

Saat ini, sebagian besar siswa di Indonesia diwajibkan untuk belajar di rumah. Konsekuensi dari penutupan sekolah, diantisipasi oleh para guru dengan pembelajaran daring (dalam jaringan). Pembelajaran dilakukan dari rumah atau lazim disebut belajar dari rumah (BDR).

Fakta di SD Negeri 5 Karanganyar, siswa kelas 3 mengalami kejenuhan dalam mengikuti pembelajaran Pendidikan Agama Islam (PAI) secara BDR. Hasil evaluasi awal dari guru menunjukkan bahwa siswa mulai bosan dalam melaksanakan BDR pada saat masa pandemi.

Siswa terlihat sekadar memenuhi kewajiban mengerjakan tugas-tugas yang telah diprogramkan dan mengandalkan mesin pencari di internet seperti google ataupun yahoo untuk membantu menyelesaikan tugas. Blended Learning menjadi solusi yang dilakukan guru dalam menjabarkan materi KD 3.2 Memahami Hadis yang terkait dengan dengan perilaku mandiri, percaya diri, dan bertanggung jawab.

Blended Learning atau pembelajaran campuran merupakan sebuah strategi pembelajaran yang bertujuan untuk mencapai tujuan pembelajaran dengan cara memadukan pembelajaran berbasis tatap muka dengan pembelajarn berbasis teknologi informasi yang dilakukan secara daring (Widiara, 2018: 51).

Tujuan dikembangkannya blended learning yaitu penggabungan keunggulan pembelajaran online untuk meningkatkan pembelajaran mandiri secara aktif oleh peserta didik dan mengurangi jumlah tatap muka di kelas. Tujuan akhirnya meningkatkan pemahaman siswa mengenai mata pelajaran (Khoiroh dkk., 2017: 99).

Mengingat keadaan masih dalam masa pandemi, blended learning merupakan pembelajaran yang sesuai di era pandemi COVID-19. Penerapan model pembelajaran ini dilaksanakan di kelas 3 SD Negeri 5 Karanganyar tahun pelajaran 2020/ 2021 pada materi menghafal hadis tentang perilaku mandiri, percaya diri, dan bertanggung jawab.

Guru mengawali kegiatan pembelajaran dengan mencari informasi berkaitan materi pelajaran yang dibahas. Kegiatan ini dilakukan secara online. Selanjutnya, guru membimbing siswa menemukan, memahami dan berlatih menghafalakan hadis.

Kegiatan dilakukan secara tatap muka, berkunjung ke rumah siswa dengan memperhatikan protokol kesehatan. Lalu siswa mengkonstruksi dan mengakomodasi dengan menyimpulkan kesimpulan tentang penerapan hadits dalam kehidupan sehari-hari. Terakhir, siswa saling memberikan masukan dan mengoreksi hafalan hadits serta guru mengoreksi jika ada kekeliruan.

Setelah blended learning diterapkan, pemahaman siswa terhadap materi PAI meningkat. Selaras dengan yang dikemukaan Usman (2018: 140) bahwa keunggulan blended learning yaitu pembelajaran kapan saja dan dimana saja, pembelajaran bisa dilakukan secara mandiri dan tatap muka yang saling melengkapi, pembelajaran menjadi efektif-efisien, siswa mudah mengakses materi pelajaran karena tersimpan dalam bentuk file di WA.

Pembelajaran menjadi lebih luwes dan tidak kaku karena ada keterpaduan dengan kerja sama antar siswa.

Kesimpulan yang bisa diambil adalah asumsi siswa bahwa belajar PAI ternyata menarik dan menyenangkan. Tidak seperti pembelajaran yang biasa dilaksanakan. Prestasi belajar juga meningkat jika dilihat dari hasil tes tertulis.

Blended Learning menjadi solusi kegiatan belajar mengajar dalam masa pandemi yang membatasi interaksi guru dengan siswa. Ada imbas positif terhadap kualitas pembelajaran terutama pada mata pelajaran PAI. Saya merekomendasikan kepada rekan sejawat terutama guru PAI di manapun berada untuk mencoba menerapkan model pembelajaran ini.

SRI HIDAYATI, S.Pd.I.
Guru Pendidikan Agama Islam
SD Negeri 5 Karanganyar,
Korwilcam Dikpora Purwanegara

Beri komentar :
Share ya :

Banyumas Ekspres

Selalu Ada yang Baru Setiap Hari

Artikel terkait :