Solidaritas di Tengah Pandemi

 Solidaritas di Tengah Pandemi

Mutiara Ramadhan Gus Irfan Bumi Hijau

RAMADHAN ibarat sebuah bulan penuaian besar dari berbagai amalan saleh, atau biasa kita sebut sebagai yaum al-khasd Orang dapat dengan mudah menuai apa saja yang dia kehendaki, karena Allah SWT telah memberikan jaminan terhadap orang yang berpuasa.

Ibadah puasa dengan menahan segala hawa nafsu yang ada dalam jiwa dan raga merupakan media bagi orang-orang yang beriman agar niscaya menjadi golongan orang yang bertakwa.

Setelah menjalankan ibadah tersebut, kita ibarat seorang bayi yang baru lahir, yang suci, dan tidak terdapat dosa padanya. Keadaan suci seperti ini akan tetap terpelihara jika kita memang mampu menjaganya setelah selesainya bulan Ramadhan dengan amalan saleh.

Kadang sering kita dengar sebuah ungkapan “kita bagaikan kertas putih tanpa noda setelah berpuasa”. Dari segi bahasa ungkapan itu memang benar, memang fitrah sendiri dari segi bahasa mempunyai arti suci dari dosa. Akan tetapi ungkapan tersebut jika ditilik segi eksistensi fitrah jelas salah.

Karena fitrah merupakan pengejawantahan sikap diri akan ajaran-ajaran Allah SWT. Bukan hanya raganya saja yang suci, akan tetapi jiwa pun ikut tersucikan. Dalam Al-Qur’an sendiri, Allah SWT menjelaskan arti fitrah pada QS.Arruum:30, yang artinya:

“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut Fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (itulah) Agama yang lurus; tetapikebanyakan manusia tidak mengetahui”.

Manusia diciptakan Allah dengan mempunyai naluri beragama yaitu agama Tauhid. Apabila banyak kita temui manusia yang melenceng dari tuntutan Agama Tauhid, maka hal itu tidaklah wajar. Mereka hanyalah terpengaruh dari lingkungannya. Dan orang tua merupakan lingkungan terdekat bagi seorang anak.

Para cendikiawan muslim mengartikan fitrah berbeda-beda. Dimana Imam Abu Zar’ah sendiri mengartikanfitrah adalah sebagai ashl al-khilqoh (asal kejadian manusia), sedangkan Imam Ibnu Mundzir mengartikannya sebagai awwal al-khilqoh (permulaan kejadian manusia).

Jadi dapat diartikan bahwa Fitrah manusia adalah asal dan awal kejadian manusia. Manusia sendiri berawal dari jiwa serta raga yang suci, kemudian beranjak mendapatkan pengaruh dari lingkungan sekitarnya baik yang berbentuk positif maupun negatif.

Artinya, hanya lingkunganlah yang menjadikan dia berpaling dari kesalehan, yaitu agama Allah. Dapat diibaratkan disini, bahwa sejatinya yang nama air pasti akan mengalir mencari tempat yang rendah, jika ada air yang mengalir keatas berarti dipengaruhi oleh lingkungan. Mungkin dengan pompa air atausejenisnya. Sejalan dengan itu, Rasulullah saw bersabda dalam sebuah Hadits:

“Setiap manusia dilahirkan kedunia itu dalam keadaan fitrah (suci). Yang menjadikannya seorang anak itu yahudi, nasrani, atau majusi adalah faktor orang tuanya”

Idul Fitri Awal dari Kesucian

Makna i’dul fitri secara bahasa berarti kembali dalam keadaan suci. Jiwa dan Raga kita tersucikan dengan berpuasa. Puasa sendiri merupakan pelatihan diri untuk menuju fitrah kita sesungguhnya. Dimana fitrah sesungguhnya adalah dengan menjalankan segala perintahNya dan menjauhi segala laranganNya. Dalam berpuasa dibulan ramadhan juga semestinya menjadi sarana kontemplasi sosial, yang akhirnya kita akan lebih peka lagi terhadap sesama.

Puasa melatih kita bukan hanya lebih mendekatkan diri kepada sang khaliq, akan tetapi lebih dari itu. Dalam ramadhan setidak-tidaknya kita diajarkan untuk dapat merasakan lapar dan haus yang biasa ditemui dan dirasakan oleh orang miskin. Terlebih pada saat pandemi sekarang ini, semua orang terdampak oleh sebuah virus yang familiar kita dengar dengan Covid 19 atau Corona.

Idealnya dengan media ramadhan ini hubungan horizontal harus kita gaungkan lagi. Karena sebenarnya Ramadhan mengajarkan kita terhadap kesalehan sosial dan kekhusu’an vertikal yang imbang. Ramadhan mengajak kita untuk bermukhasabah dan selanjutnya lebih peka terhadap sesama.

Tengoklah realitas disekitar kita, banyak masyarakat yang sangat membutuhkan. Kesejahteraan belum terasakan pada masyarakat, ketidakadilan terus berlangsung sempurna. Pembodohan terhadap rakyat terjadi demikian vulgar, dan kekerasan atas nama Agama berulang kali muncul dengan telanjang.

Hal-hal tersebut merupakan salah satu dari sekian banyak persoalan sosial disekitar kita. Seharusnya dengan menjalankan puasa Ramadhan seluruh tatanan yang ada akan semakin menuju perubahan positif.

Pemberian bantuan logistik merupakan bentuk dari solidaritas ditengah Pandemi kali ini. Ketika kita merasa semakin dengan dengan langit, seharusnya harus kita imbangi dengan semakin dekat pula dengan bumi. Allah SWT selalu menggandengkan hubungan sholat bersandingan dengan zakat, ini menunjukkan keduanya harus imbang.

Dalam pemberian bantuan, hendaknya kita harus jeli terhadap siapa yang harus kita bantu. Harus tepat sasaran. Karena arti أتى adalah جاء atau أحضر yang bermakna datang atau menghadirkan, bukan memanggil.

Akan terasa sangat indah, dan tercipta sebuah tatanan yang kondusif dalam berbangsa jika kita sebagai manusia yang beragama dapat mengimplementasikan kesucian kita dalam bermasyarakat.

Dari pada itu, salah satu bentuk perimbangan hubungan vertikal dan horizontal dalam berpuasa dapat kita temui juga dengan adanya Zakat fitrah. Dalam kaitan puasa Ramadhan, baru dapat dikatakan suci (fitrah) setelah kita melengkapinya dengan menunaikan ZakatFitrah.

Karena padanyalah penyempurna ibadah puasa ramadhan kita dapat dilihat. Rasulullah saw bersabda:

“Zakat fitrah merupakan penyempurna bagi orang-orang yang berpuasa” (HR.AbuDawud).

Dari segi waktu pendistribusian zakat fitrah, akan dapat dilihat begitu ramahnya ramadhan dalam mengakhiri kebersamaan. Pertimbangan waktu pembagian itu tidak lain karena dilihat dari tujuannya, zakat fitrah merupakan cita dari sikap sosial agar seluruh ummat muslim pada hari raya dapat menikmati hidangan dengan layak tanpa ada satu orang pun yang tidak bisa (merasakan) makan.

Ada lima waktu yang ditetapkan sebagai acuan dalam menunaikan zakat fitrah. Kelima waktu tersebut mulai dari yang sifatnya diperbolehkan hingga haram untuk dilaksanakan. Kelima waktutersebut adalah:

  1. Waktu awal ramadhan (diperbolehkan untuk dilaksanakan/ibakhah)
  2. Pada saat matahari terbenam di akhir bulan ramadhan (waktu yang wajib untuk dilaksanakan/wujub)
  3. Sebelum melaksankan sholat Ied (waktu diutamakannya menunaikan zakat/fadlilah)
  4. Setelah sholat Ied (hanya dilaksankan apabila dalam keadaan terdesak/karohah)
  5. Setelah waktu dzuhur pada hari raya (Haram dilaksanakan/tahrim).

Sangat jelas sekali pesan yang dibawa dalam penetapan waktu distribusi zakat fitrah ini. Hal ini sebagai bentuk sikap sosial yang luar biasa dalam beragama, agar semua elemen ikut merasakan kegembiraan pada hari raya tanpa terkecuali.

Akhirnya setelah kita menjalankan ibadah puasa Ramadhan, hingga disempurnakan dengan zakat fitrah, semoga kita semua termasuk golongan orang-orang yang bertaqwa dan senantiasa menjaga kefitrahan jiwa dan raga akan ajaran-ajaran Agama Allah SWT. Karena banyak diantara kita yang menjalankan ibadah puasa akan tetapi hanya mendapatkan lapar dan hausnya saja.

Taqabbal Allah Minna wa MinkumTaqabbal Yaa Kariem. Minal a’idzin wa al-faaizin

Wallahua’lam

Kalijaha, putaran terakhir Ramadhan 2020
Ah.Md.Irfan Maulana Syh,. SH
(Ketua Bumi Hijau)

Beri komentar :
Share ya :

Banyumas Ekspres

Selalu Ada yang Baru Setiap Hari

Artikel terkait :