Banjir Cilacap Rendam 46 Desa di 15 Kecamatan

 Banjir Cilacap Rendam 46 Desa di 15 Kecamatan

KUNJUNGI BANJIR: Bupati Cilacap didampingi Ketua TP PKK mengunjungi korban banjir yang mengungsi sekaligus menyerahkan bantuan.

CILACAP – Tingginya curah hujan di wilayah kabupaten Cilacap menyebabkan banjir yang melanda 46 desa di 15 kecamatan. Hingga hari ketiga genangan air masih merendam ribuan rumah. Banjir kali ini diperparah dengan jebolnya 23 titik tanggul sungai di sejumlah wilayah.

“Hujan dengan intensitas tinggi memicu terjadinya banjir di sejumlah wilayah. Banjir juga disebabkan jebolnya tanggul sungai di 23 titik yang tersebar di sejumlah wilayah,” kata Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Cilacap Tri Komara Sidy Wijayanto, Kamis (19/11).

Tri mengungkapkan bencana banjir kali ini termasuk terparah karena wilayah yang terdampak sangat luas. Hingga hari ketiga, Kamis (19/11) banjir masih merendam 46 desa di 15 wilayah kecamatan. Rinciannya, di wilayah Cilacap Timur terdiri dari Kecamatan Kroya enam desa, Sampang dan Nusawungu masing-masing satu desa.

“Selebihnya 12 Kecamatan di wilayah Cilacap Barat yaitu Kawunganten satu desa, Kampunglaut dua desa, Bantarsari dan Gandrungmangu masing0masing tujuh desa, Sidareja enam desa, Cipari dan Kedungreja masing-masing tiga desa, Majenang empat desa, Wanareja dua desa. Kemudian Patimuan, Cimanggu dan Karangpucung masing-masing satu desa. Wilayah yang paling terdampak Sidareja, Gandrungmangu dan Bantarsari,” ungkapnya.

Disebutkan, dari 45 desa tersebut jumlah yang terdampak banjir tercatat sebanyak 19.188 KK terdampak banjir.

“Meski terdampak, tidak semua warga mengungsi. Jumlah warga yang mengungsi sebanyak 1.323 KK dengan 3.811 jiwa. Pengungsi menempati tempat-tempat pengungsian yang tekah disiapkan. Adapula warga yang mengungsi dipinggir rel kereta api dan rumah keluarga,” rincinya.

Selain bencana banjir, pada waktu yang sama hujan deras disertai angin kencang yang mengguyur sejumlah wilayah juga telah menyebabkan bencana tanah longsor. Tercatat bencana tanah longsor dan angin kencang melanda 17 desa yang tersebar di empat kecamatan. 14 desa di tiga kecamatan diantaranya mengalami bencana tanah longsor, meliputi Kecamatan Cimanggu empat desa, Karangpucung tujuh desa dan Wanareja satu desa.

“Terparah di wilayah Kecamatan Karangpucung, ada empat rumah roboh tertimpa longsor di Desa Gunungtelu, delapan rumah rusak berat di tiga desa,” beber Tri Komara.

Sedangkan bencana alam angin kencang melanda tiga desa di Kecamatan Sampang, satu rumah rusak berat dan tiga rumah lainnya rusak ringan.

Tri menyatakan, pihaknya telah melakukan peninjauan lokasi kejadian dan melakukan Assesment bersama Forkompimcam dan dinas terkait. Melakukan Operasi Tanggap Darurat dan kordinasi bersama relawan dan dinas terkait untuk penanganan darurat. Kemudian mengevakuasi korban banjir.

“Menyalurkan logistik dan mendirikan dapur umum di beberapa titik,” katanya.

Sementara itu Bupati Cilacap Tatto Suwarto Pamuji yang meninjau langsung korban banjir di tempat-tempat pengungsian menyampaikan prihatin atas bencana yang melanda puluhan desa.

Menurutnya, wilayah Kabupaten Cilacap merupakan supermaketnya bencana alam karena hampir semua potensi bencana terjadi di wilayahnya. Namun bencana yang sering terjadi adalah banjir.

“Bencana banjir yang melanda kali ini sangat luas dari Nusawungu hingga Wanareja,” ujarnya.

Karena setiap tahun saat musim penghujan kerap terjadi bencana banjir, lanjut dia, untuk penanganannya BPBD Cilacap selalu siap 24 jam. Bahkan, Bupati mengaku memantau langsung setiap terjadi bencana.

“Jangan sampai ada orang mengungsi yang sakit, jangan ada yang kelaparan. Rumah roboh segera tangani, jembatan rusak harus segera diperbaiki karena ini menyangkut masalah perekonomian. Tapu yang lebih penting adalah kesehatan warga terdampak bencana apalagi dimasa pandemi seperti ini,” tandasnya.

Tatto meyerahkan penanangan korban bencana kepada BPBD Cilacap, karena banyak bantuan yang mengalir dari berbagai pihak baik pemerintah pusat, provinsi maupun masyarakat.

“Dapur umum diririkan, semua tenaga medis diterjunkan. Saya pantau langsung,” tegasnya.

Disinggung mengenai penyebab banjir, Tatto mengatakan salah satunya karena wilayahnya yang terdampak merupakan daerah cekung.

“Pemerintah pusah melalui PUPR sudah merencanakan membangung bendung Matenggeng. Nantinya, selain untuk mengairi pertanian juga berfungsi mengurangi laju banjir di wilayah Sidareja dan sekitarnya,” pungkasnya. (gin)

SAMB: Empat Rumah Roboh Tertimpa Longsor

Beri komentar :
Share ya :

Eko Utomo

Redaktur Banyumas Ekspres

Artikel terkait :