Desa Brebeg Kembangkan Emping Jagung

 Desa Brebeg Kembangkan Emping Jagung

UKM: Anggota Kelompok Tani Gayam Sari Desa Brebeg Kecamatan Jeruklegi menjemur jagung yang telah digiling menjadi emping. (Wagino)

CILACAP – Kabupaten Cilacap merupakan 10 Kabupaten penyangga utama di tingkat nasional maupun provinsi berdasarkan rilis yang dikeluarkan Kementerian Pertanian tahun 2020.

Dengan luas sawah seluas 66.527 hektar mempunyai komoditas unggulan utama tanaman pangan berupa padi. Selain itu lahan kering seluas 41.335 hektar digunakan untuk pengembangan jagung seluas 6.500 hektar. Produksi rata-rata 40 ribu ton jagung pipilan kering.

Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap menyebutkan, lokasi sentra jagung terbesar di Kabupaten Cilacap tersebar di enam kecamatan yaitu Jeruklegi, Bantarsari, Gandrungmangu, Kawunganten, Cimanggu dan Karangpucung.

“Dicermati dengan ketersediaan lahan dan produksi yang dihasilkan, Kabupaten Cilacap cocok untuk pengembangan jagung. Pasar produk jagung masih sangat terbuka lebar dan sarana produksi tersedia dekat dengan petani,” kata Supriyanto, Selasa (30/6).

Supriyanto melanjutkan, harapannya adalah, dengan produksi yang semakin meningkat akan mengurangi porsi impor jagung. Untuk menambah nilai ekonomi, jagung diolah menjadi makanan ringan.

“Kegiatan ini sudah dilakukan oleh Kelompok Tani Gayam Sari Desa Brebeg, Kecamatan Jeruklegi melalui kegiatan unit pengolahan hasil (UPH) jagung yang diolah dan diproduksi menjadi emping jagung,” terangnya.

Dijelaskan, UPH merupakan bantuan dari Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Tanaman Pangan Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian Tahun 2019 berupa alat dan bangunan.

“Kapasitas produksi dapat mengolah 10 kilogram jagung pipilan kering menjadi emping jagung setiap harinya,” jelas Kepala Dinas Pertanian Cilacap ini.

Dikatakan, dampak yang dirasakan dengan adanya UPH jagung adalah kegiatan kelompok tani bertambah dan semakin variatif. Kelompok wanita tani dapat berkontribusi sebagai tenaga kerja.

“Pendapatan kelompok tani juga bertambah sebesar Rp 2.200.000 per bulan hasil dari penjualan emping jagung,” katanya.

Selain menambah nilai ekonomi, masih kata Supriyanto, UPH jagung juga dapat menumbuhkan jiwa kelompok tani.

“Karena didalam UPH dituntut adanya kreatifitas untuk mengolah dan mengemas produk jagung sehingga menarik minat konsumen untuk membeli,” katanya.

Harapan ke depan, UPH dapat memproduksi dan memasarkan produknya dengan kapasitas yang lebih baik sehinga menambah lapangan kerja di sekitar lokasi.Dengan demikian pendapatan petani jagung dan keluarganya.

Supri menambahkan, di tahun yang akan datang ada tawaran dari Politeknik Pembangunan Pertanian Yogyakarta Magelang (Polbangtan Yoma) untuk melakukan pelatihan pengolahan hasil jagung menjadi makanan yang lebih variatif selain emping jagung.

Kepala Seksi Pasca Panen Pengolahan dan Pemasaran Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kabupaten Cilacap, Mey Ary Praptiwi menambahkan, saat ini produksinya belum stabil apalagi selama tiga bulan menghadapi pandemi COVID-19. Jadi pemasarannya terkendala distibusi dan sebagainya.

“Namun dalam seharinya, dalam seharinya mampu mengolahi 10 kilogram jagung pipilan kering menjadi produk emping jagung paling tidak tujuh kilogram,” katanya.

Saat ini penjualannya masih di pasar lokal, belum sampai keluar. Namun sejak akhir tahun produk kelompok tani ini sudah mulai dikenalkan kepada konsumen melalui ekspo maupun lewat lapak tani.

“Itu ajang mereka untuk memasarkan produk, walaupun masih dikalangan sendiri. Tapi dikenal lebih dulu kepada konsumen,” katanya.

Ditambahkan, bila produksi sudah stabil, rasa juga sudah enak dengan banyak variasi pihaknya bisa mengenalkan lagi kepada UKM yang besar maupun untuk bahan baku industri.

“Jadi bisa memproduksi barang setengah jadi atau barang jadi,” pungkasnya. (gin)

Beri komentar :
Share ya :

Banyumas Ekspres

Selalu Ada yang Baru Setiap Hari

Artikel terkait :