Jasadnya Masih Utuh dan Harum-Mengenang KHM Hidayat

 Jasadnya Masih Utuh dan Harum-Mengenang KHM Hidayat

KH Muhammad Hidayat

Adalah Muhammad Hidayat, remaja asal Padaerang Ciamis itu mula-mula mengaji di Pesantren Langgen asuhan KH Sanusi. Sosok kelahiran 30 November 1934 tersebut kemudian melanjutkan belajar ilmu agama di Pesantren Lasem asuhan KH Ma’shum.

“Teman Abah semasa nyantri di Lasem antara lain KH Mustholih Badawi Kesugihan dan KH Fuad Hasyim Buntet,” kata Gus Fuad Idris, putra kedua KHM Hidayat.

Lalu, bagaimana ceritanya KHM Hidayat bisa sampai ke Sokaraja dan menetap di sana?

Pada waktu itu, konon KH Abdul Kholik dari Sokaraja Lor (Pendiri Pesantren Al-Makmur) bermaksud mencarikan jodoh bagi putrinya yang bernama Masrifah. KH Abdul Kholik mengutarakan maksud tersebut kepada KH Ma’shum Lasem.

“Kiai, kulo nyuwun dipadosan jago kangge anak kulo,” ujar KH Abdul Kholik, seperti dituturkan Gus Irchamni.

Kata ‘jago’ di sini tentu bukan arti sebenarnya. Melainkan arti kias untuk seorang laki-laki pilahan (alim; berkualitas) untuk dijodohkan dengan seorang perempuan yang telah dipersiapkan.

Singkat kisah, KH Ma’shum menyodorkan nama Muhammad Hidayat kepada KH Abdul Kholik. Tak lama kemudian, berlangsunglah pernikahan pasangan Muhammad Hidayat dan Masrifah di Sokaraja Lor. Dalam acara pernikahan tersebut, KH Ma’shum hadir secara pribadi dan memimpin akad nikah.

Saat hadir di Sokaraja, KH Ma’shum memberi nama pesantren asuhan KH Abdul Kholik dengan nama Al-Makmur. Sebelumnya, konon nama pesantren ini adalah Roudlotut Tulab.

Setelah menikah, Kiai Hidayat muda menetap di Sokaraja dan membantu mengajar hingga menggantikan sang mertua sebagai Pengasuh Pesantren Al-Makmur Sokaraja Lor.

Dari pernikahannya dengan Nyai Hj Masrifah binti KH Abdul Kholiq, KHM Hidayat dikaruniai sembilan anak: (1) H Imam Rozi, (2) H Fuad Idris, (3) Hj Maftuchah – Pondok Pesantren Al-Chalimi Sokaraja, (4) H Abdul Majid – Kalibagor, (5) K Izzudin – Pondok Pesantren Az- Zuhriyah Suro Kalibagor, (6) Hj Fatimatuzzahroh – Pondok Pesantren Roudlatul Huda Purworejo, (7) Muhammad Zidni – Petuguran Brebes, (8) Nyai Uswatun Hasanah – Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin Hidayatul Qur’an/PPRTHQ Randudongkal Pemalang, dan (9) Lu’luatul Muhimmatul Ifadah – istri Gus Irchamni.

Selain mengajar ilmu syariah di pesantren, KHM Hidayat juga mengajar amalan tasawuf bagi pada murid yang telah berbaiat. Pasalnya, beliau adalah guru (mursyid) Tarekat Qadiriyah Wan Naqsabandiyah; ijazah sebagai mursyid diperoleh dari KH Bustomil Karim (Purwoasri Lampung), yang memiliki nama lengkap Nur Muhammad Abdurahim Busthomil Karim.

KHM Hidayat meninggal dunia pada 18 Juni 2009 dan dimakam di Pemakaman Semboja Lima Desa Sokaraja Lor. Sekira enam bulan kemudian, makam beliau dipindahkan ke kompleks Pondok Pesantren Al-Makmur. Hal tersebut dilakukan atas arahan KH Saeful Anwar atau lebih dikenal dengan panggilan Abah Ipung (Ketileng Semarang).

Saat pembongkaran dilakukan, istri almarhum KHM Hidayat (Nyai Masrifah) masih berada di Tanah Suci dalam rangkaian ibadah haji.

“Saya ikut lansung dalam prosesi pembongkaran makam beliau,” kata H Sonhaji, mantan Kepala Desa Sokaraja Lor.

“Saat makam kita bongkar, jasad beliau masih utuh dan menebarkan aroma wangi,” kata H Sonhaji.

Sepeninggal KHM, kini Pesantren Al-Makmur diasuh oleh Gus Fuad Idris. Adapun urusan bidang tarekat diteruskan oleh KH Imam Rozi, putra sulung almarhum. (*)

Purwokerto, 9 Oktober 2020

Penulis:
Akhmad Saefudin SS ME

Diolah dari hasil wawancara dengan Gus Fuad Idris (6 Oktober 2020); Gus Irchamni (7-8 Oktober 2020); dan H Sonhaji (8 Oktober 2020).-

Beri komentar :
Share ya :

Eko Utomo

Redaktur Banyumas Ekspres

Artikel terkait :